Pages - Menu

Jumat, 30 Mei 2014

cerpen


A LITTLE AFFECTION FOR LITTLE SISTER
Sesaat, kedua bola mataku menangkap defraksi cahaya matahari yang menampakkan sebuah siluet tubuh wanita mungil. Waktu dan kedua kakiku terus melangkah meninggalkan pikiranku yang buntu, menuju bayangan yang terlihat sedang duduk termenung di salah satu sisi pohon pinus. Kembali ku coba untuk memutar otak, namun tubuh inimemilih untuk bersandar di sisi lain pohon tempat siluet itu berada. Tak ada tanda-tanda siluet itu menyadari kehadiranku. Namun ada nada resah dalam nafasnya. Aku masih diam seribu bahasa. Hanya memandangi ilalang yang menjulangbergerombol dan bunga matahari yang terus mengahadap arah dimana datangnya cahaya surya.awan berarak serentak dengan suara desahan panjang dari siluet tersebut. Pandanganku merubah haluannya ke sisi lain pohon. Hanya ada sebagian rumput tertelungkup datar yang terlihat, menandakan bahwa siluet tersebut telah beranjak dari tempatnya. Seketika aku terperanjat memandang tangan mugil yang terjulur ke arahku, “hai…”, ia hanya berucap pendek dengan menyebutkan sebuah nama yang indah. Pandangannya yang hangat membuatku “mafhum” atas apa yang ia maksud. Pikiranku membalas dengan menjabat tangannya dan menyebutkan nama. Sejenak aku membuka percakapan dan ia mulai bercerita. Angin berhembus mengibaskan rambut panjang wanita mungil itu. Rerumputan dan ilalang bergoyang membawa aroma semerbak yang kurasa mengenalinya. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya aroma itu menerbangkan pikiranku ke angkasa, tepat di tengah wanita mungil itu bercerita.
-=+=-
Aku terbangun tepat satu menit sebelum bekerku berbunyi. Cahaya remang sudah menembus cahaya jendela, menandakan surya di awal hari. Dering tersengar besertaan geliat tubuh mungilku di atas kasur empuk, menyempurnakan tenaga sehabis lelap semalam. Kaki kecilku menopang tubuh menuju pintu dengan pikiran yang mulai bekerja, “Sarah…, bantuin ibu di dapur”,suara ibuku menggelegar indah dari ruang belakang, “iya bu…, Sarah mandi dulu”. Begitulah keseharian anak perempuan tertua di rumah. Bagaimanapun harus ada yang meringankan kerja ibu di dapur. Adikku yang paling kecil masih belum bias diajak masak, paling-paling hanya ikut nyicip-nyicip doing. Kakakku sudah bekerja di perusahaan menggantikan ayah yang meninggalkan kami dua tahun yang lalu. Walau begitu ibu tak bergantung pada kakak. Ibu memiliki outlet brownies sendiri di kota, jadi tak perlu ambil repot. Kadang kala kami merasa iba pada ibu di saat beliau teringat akan almarhum ayah. Di saat seperti itu, seakan suasana melemparkan ombak kepada kami dan menyeret kembali ke masa lalu, maklum almarhum ayah orang yang sangat pengertian dan baik pada kami semua, terutama ibu.
-=+=-
Deru mobil kembali mengaung halus, tanda kakakku siap melaju di jalan. Terlihat jelas di balik kaca besar, para petugas menata brownies yang baru kami antar. Kata bang Egbal, took ini selalu kehabisan stok di saat libur sekolah. Dan mungkin mulai hari ini, kebiasaan itu tak akan terjadi, karena ibu telah merekrut banyak pegawai baru. Sampai saat ini, kurang lebih 27 macam jenis dan rasa yang ditawarkan, dan semua itu dari satu biang, asli buatan ibu. Bel tanda masuk sekolah berbunyi nyaring menyeruak setelah mobil bang Egbal hilang di tikungan. Langkah kakiku kupercepat tak seperti biasanya. Di kelas hanya tinggal satu bangku kosong yang bersebelahan dengan anak perempuan berpostur mungil sepertiku, namanya Fanie Martani. “Sar…, tumben lu telat”,ucapnya sedikit kaget melihat kebiasaanku yang tiba-tiba berubah, tak seperti biasanya, “iye nih, habis ikut nganter stok brownies ke took bareng abang”,ucapku sekenanya sembari duduk di sebelah Fanie, “untung pak Bambang belum masuk, kalo udah apa jadinya elu entar”, kami tertawa kecil dan sekejap langsung berhenti ketika pak Bambang benar-benar masuk kelas. “oke anak-anak, PR biologi minggu lalu segera dikumpulkan”, pak Bambang itu orangnya “to the point” banget, habis salam langsung serang. Begitu kira-kira komentar teman sekelasku, tak terkecuali Fanie. Sedetik kemudian aku merasakan ada yang aneh, “Sar…, mana PR lu?, biar gue kumpulin bareng”. Aku mengerjap beberapa kali dan akhirnya menyerah, “duh nie… gue lupa, gimana ye?”, nada suaraku lebih mirip anak ayam kedinginan, “bantuin gue ye… pliss…”, itu kalimat harapan pertamaku karena belum ngerjain PR, “sante aje kale Sar… tak ada masalah yangtak bias diselesaikan”, Fanie kemudian maju mengumpulkan PR-nya dan mengatakan sesuatu pada pak Bambang yang kemudian menyuruhknya kembali duduk, “ini pertama kalinya saya memberi dispensasi pada anak pandai, dan untuk Sarah, jangan coba-coba ulangi lagi”, pak Bambang berkata lantang di depan kelas, menggelegar, “iya pak”, sahutku secepat tupai meloncat dari pohon cemara di luar jendela kelas. Lepas dan pandangan seram Bambang, aku mencondongkan tubuhku mendekati Fanie dan bertanya, “eh nie, emang ngomong apaan sih tadi?”, ia mengembangkan senyum kecilnya dan menjawab,”not to know…,hehehe”. Hanyalah seorang Fanie yang bias membuatku bingung dan heran. Bagaimana bisa seorang cewek yang terkenal tomboy nun manis ini juga memiliki prinsip hidup yang misterius dan begitu hebat. Lihat saja, setelah aku mencubit kecil lengannya, sontak ia melayangkan tinju kecil ke lengan kiriku,” aw…, sakit tau nie”, sekejap, pandangan pak Bambang kembali mengarah kepada kami dan diikuti ketukan spidol di papan tulis, menyadari ada rasa kesal pada pandangan pak Bambang, kami sontak membenahi posisi duduk, bersamaan. Memilah buku, dan kemudian menulis apa yang tertera di papan.
-=+=-
Kami tiba di dunia fantasi kira-kira setengah jam setelah sebulan selesai mengerjakan ujian semester genap yang memaksa murid melakukan “overlocking” kerja otak. Dan hari ini pula, tepatnya Rabu akhir bulan Mei. Semua rencana Fanie dan aku berjalan sukses, kami menghabiskan hari bersama, bersenang-senang di kompleks wahana yang besar ini. Jujur, ini hari pertama dan mungkin terakhir kita bisa berdua menghabiskan waktu disini. Orang tua fanie memutuskan untuk berlibur ke kampong halaman di Jawa Tengah. Dan Fanie tak punya alas an untuk tidak ikut karena ia sendiri sudah lama ingin bertemu sanak saudaranya. “sar, besok gue ngikut ortu ke kampong, dan gak tau kapan balik, jadi thanks ya buat hari ini”, suaranya terdengar begitu senang dan ceria, sama seperti suasana siang hari ini,”Fanie Fanie, kan kita masih bisa SMS-an, so, santai aja lagi, gak usah alay”, sontak, tawa kami membahana dalam kehebohan di sekeliling. Melihat berbagai model pakaian yang digunakan orang-orang di sekeliling, membuat kami tak mampu melanjutkan percakapan hingga, sampai di muka mobil Innova merah. Kami masuk dan supir mulai memutar kuci ke kanan. Anak-anak jalan masih berkeliaran di sudut kota, berharap akan mimpi mereka sendiri. Surya mulai menutup singgasananya sesaat setelah Fanie selesai mampir ke rumahku, pamit. Memang, betapa dekatnya aku dan Fanie sampai-sampai orangtuaku hanya mengenal ia sebagai teman dekatku. Ia berpamitan dan langsung pulang ke rumahnya di wilayah selatan. Tak ada yang tahu bahwa itu akhir perjumpaan kita, kecuali sang sutradara semesta.
-=+=-
Mataku terbuka perlahan, meluaskan pandangan. Sedikit demi sedikit mengenali suasana tenang di depan hamparan ilalang dan bunga matahari. Dedaunan bergesekan di ranting-ranting pohon pinus yang menyangga punggungku. Kuputar bola mataku dan menangkap sosok wanita berpostur mirip diriku yang sedang bercerita panjang lebar. Nada resah dan isak bergantian mengisi ucapannya. Angin sejuk menerpa tubuh pohon pinus. Cahaya surya membiaskan daun-daun yang jatuh dan membentuk sosok siluet, bentuk manusia. Perlahan tangan siluet terulur kea rah kami, membuat wanita mungil di sisikumenghentikan ceritanya. Ia kemudian beranjak dan menghampiri sosok remang tersebut, mengaitkan lengan mereka dan menoleh ke arahku, terangguk. Ada nadalepas pada nafas wanita itu saat berjalan menjauhiku. Kembali angina berhembus dan menerbangkan ilalang di bawah yang kemudian membiaskan wujud sosok siluet, dan wanita itulenyap tak bersisa. Sekejap kulihat tubuhku yang ikut membias dan terbang ke angkasa. -END-
Oleh: Abdan Syakur Amrullah(sengata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar